Dr. Pollet, seperti ditulis oleh harian The Times edisi Senin (19/1), percaya bahwa fenomena ini adalah bentuk "adaptasi evolusi" para perempuan, yang membuat mereka memilih pria berdasarkan kualitas yang mereka inginkan.
Orgasme perempuan menjadi fokus karena--sejauh ini--belum tampak manfaat secara reproduktif. Perempuan bisa hamil baik ia mengalami orgasme atau tidak saat berhubungan badan.
Pollet, yang rekan yang melakukan penelitian yakni Professor Daniel Nettle, bahwa orgasme ini bentuk evolusi yang mendorong perempuan memilih pasangan yang dipersepsikan "kualitas bagus".
Dua profesor ini menyimpulkan hal ini berdasarkan Survei Kesehatan dan Kehidupan Keluarga Cina yang dilakukan terhadap 5.000 orang di negara itu. Survei ini, diantaranya, mempertanyakan kehidupan seks, pendapatan, dan sejumlah faktor lain.
Diantara mereka, terdapat 1,534 perempuan yang memiliki suami yang menjadi dasar survei. Hasilnya tidak berbeda jauh dengan survei di negara Barat yakni:
-- 121 (7,9 persen) menyatakan selalu orgasme
-- 408 (26,6 persen) sering orgasme
-- 762 (49,7 persen) kadang orgasme
-- 243 (15,8 persen) jarang atau tidak pernah orgasme sama sekali.
Menurut para profesor dari Universitas Newcastle itu, ada beberapa faktor yang terkait dengan seringnya orgasme. Salah satu yang mencolok adalah kekayaan si suami. Semakin tebal kantong suami, semakin sering mereka orgasme.
"Semakin naiknya pendapatan memiliki efek sangat positif terhadap frekuensi orgasme yang dilaporkan perempuan," kata Pollet. "(Para suami yang kaya ini) pasangan yang makin didamba karena membuat perempuan semakin sering orgasme."
Kasus ini bukan hanya terjadi para perempuan dari negeri Cina. Penelitian sebelumnya di Jerman dan Amerika Serikat juga menunjukkan hasil serupa.(tempo.com)
No comments:
Post a Comment