Sunday, 18 January 2009

Memalukan, Nyaleg Untuk Cari Pekerjaan

Menjadi calon anggota DPR/DPRD atau legislatif dikejar dan dicerca. Ini bisa kita lihat menjelang Pemilu 2009. Begitu banyak yang tertarik untuk turut serta berkompetisi menjadi calon legislatif (caleg). Terlepas, apakah mereka seorang pengangguran atau bukan. Yang jelas, sebelum mencalonkan diri sebagai caleg, mestinya mereka memiliki visi dan misi yang jelas yakni ingin berjuang untuk kesejateraan masyarakat, bukan sebaliknya menjadi caleg agar memiliki pekerjaan. Kalau tujuannya menjadi caleg seperti yang disebutan terakhir (cari pekerjaan-red), hal itu tentunya sangat disayangkan. Pasalnya, rakyat banyak menaruh harapan kepada para caleg kalau nantinya mereka terpilih bisa membawa perubahan ke yang lebih baik. Demikian opini masyarakat yang mengemuka dalam acar Warung Global yang disiarkan radiio Global FM, Kamis (15/1) kemarin. Berikut rangkumannya.


Pande di Pandak Gede menjelaskan, sekarang musim pemilu sehingga banyak yang menyoroti hal ini. Semua negara di dunia mengklaim diri sebagai negara demokratis, tapi sistem pemerintahan yang mengamini aspirasi rakyat tergantung kondisi para pelakunya.

Sedangkan Ketut Nasir di Denpasar mengatakan, kalau benar semua caleg tidak mempunyai pekerjaan, berarti rakyat Indonesia dipakai objek oleh beliau-beliau ini. Padahal penyandang cacad yang jumlahnya 29 ribu di Bali semua punya pekerjaan. Maka lebih baik caleg yang tidak punya pekerjaan tidak usah menjadi caleg. 'Sebenarnya DPR kita belum pernah membela rakyat kecil,' ujarnya.

Jero ini berpendapat caleg 80 persen pengangguran, rupanya pernyataan politis untuk kepentingan politik guna menyudutkan calegnya. Sementara Guatama di Tampak Siring menyatakan hal itu sangat memprihatinkan, tapi kalau tidak mengisi blangko perlu dipertanyakan, apakah karena malu atau apa. 'Kalau saya lihat banyaknya caleg ini ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Artinya penghasilannya lebih tinggi dari penghasilan mereka sekarang. Diharapkan kepada para caleg jangan sampai kesan seperti ini menjadi kenyataan karena memalukan,' pintanya.

Kalau caleg tidak punya pekerjaan nantinya akan berdampak buruk terhadap parlemen atau lembaga yang sangat kita hormati dan kita muliakan. Kepada yang terpilih nanti agar betul-betul bertugas sesuai dengan fungsinya dan betul-betul menjadi mediator permasalahan yang terjadi di masyarakat. Sehingga, masyarakat tidak apatis terhadap partai yanga da. Dan, diharapkan agar partai jumlahnya lima saja, sehingga pertarungannya semakin sehat.

Sedangkan Sangging di Kemenuh Gianyar melihat, memang banyak caleg yang tidak memiliki pekerjaan. Jadi rakyat membuka lapangan kerja melalui KPU. Melalui KPU istilahnya membuka lowongan kerja untuk mewakili kita di sono-nya.

Arjun di Kaba-Kaba menjelaskan tidak benar kalau 80 persen caleg tidak memiliki pekerjaan, karena dalam syarat caleg minimal harus memiliki pekerjaan. Seandainya dia menjadi kepala desa, kaur harus berhenti dulu. Kalau Kepala Desa harus cuti. Menjadi caleg tidak main-main, karena mereka sebagian besar adalah pengusaha, syarat menjadi caleg berapa menyetorkan dana caleg untuk administrasi. Di sisi lain, kalau sudah terpilih mereka harus tahu fungsi legislatif. Misalnya membuat Undang-Undang jadi harus memiliki pendidikan tinggi, cerdas dan pengalaman.

Nang Cekov di Denpasar mengatakan, di Bali mungkin saja ada caleg yang tidak punya pekerjaan. Sekarang sejauhmana mempersiapkan mental kita, kalau seandainya menjadi calog dan konsep apa yang akan kita bangun. Kalau memang ngayah tidah harus cadi caleg, bisa bergabung ke dalam LSM atau yang lainnya. Inilah yang harus ditumbuhkembangkan. Kalau kita sudah berbuat baik tidak perlu sosialisasi. 'Sejauhmana kita memiliki kepekaan sosial. Kalau sudah duduk di dewan paling tidak ada prestise dan prestasi, prestasi berupa gaji besar dan prestise di masyarakat terpandang,' tambahnya.

Dan, kepada KPUD agar memberikan satu formulir yang jelas, pekerjaannya apa, agar tidak menimbulkan image yang kurang bagus. Meski sah-sah saja yang tidak punya pekerjaan mencari pekerjaan. Cuma masalahnya, setelah mendapat pekerjaan apa yang mampu dilaksanakan.

Dengkek di Tabanan berpendapat tidak punya pekerjaan tidak masalah, dan mencalonkan diri menjadi caleg. Setelah menjadi anggota dewan mau bekerja untuk rakyat atau tidak? Kalau betul-betul mau bekerja untuk rakyat, kenapa harus dipermasalahkan. 'Kalau mau betul-betul bekerja untuk rakyat maka harus kita dukung,' pintanya.

Sedangkan Nan Tualen di Tabanan menjelaskan, mestinya caleg tidak harus punya pekerjaan, tapi yang terpenting format pengalaman kerjanya yang penting dan track record-nya harus diketahui. (bali post)

No comments:

Post a Comment